Sangatta – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat langkah modernisasi di sektor pertanian untuk menghadapi tantangan minimnya tenaga kerja. Transformasi ini diyakini menjadi kunci menjaga produktivitas petani di tengah menurunnya minat generasi muda untuk bekerja sebagai buruh tani.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, mengatakan modernisasi pertanian menjadi solusi utama untuk menjawab kebutuhan efisiensi di lapangan.
“Kami melihat modernisasi pertanian menjadi solusi utama. Dengan alat-alat pertanian modern, petani bisa bekerja lebih cepat tanpa bergantung sepenuhnya pada tenaga kerja manual,” ujarnya, Jum’at (21/11/2025).
Salah satu langkah nyata yang sudah berjalan adalah penempatan alat panen modern combine harvester di wilayah Long Mesangat. Kehadiran mesin panen tersebut terbukti meringankan beban petani, terutama pada musim panen yang biasanya membutuhkan tenaga kerja banyak.
Penggunaan combine harvester membuat proses panen berlangsung lebih cepat, terukur, dan efisien, sehingga biaya operasional dan waktu panen dapat ditekan.
Untuk mendukung percepatan tanam, pemerintah juga meningkatkan bantuan traktor roda empat kepada kelompok tani.
“Kalau pakai hand tractor roda dua, butuh tiga sampai empat hari untuk mengolah satu hektare lahan. Tapi kalau pakai traktor roda empat, hanya butuh tiga jam saja,” terang Dessy.
Kecepatan pengolahan lahan ini membuka peluang bagi petani untuk melakukan tanam serentak, yang berdampak sangat positif terhadap pengendalian hama dan siklus produksi pertanian.
Dalam upaya mendorong pertanian yang lebih modern, DTPHP Kutim juga akan menghadirkan drone pertanian yang berfungsi untuk pemupukan dan pengendalian hama.
“Kita akan suport drone untuk daerah-daerah sentra dulu yang memiliki luas lahan di atas 300 hektare,” tambahnya.
Penggunaan drone diharapkan dapat meningkatkan akurasi pemupukan, mempercepat penanganan hama, serta menekan biaya tenaga kerja.
Dessy menegaskan, modernisasi ini diperlukan mengingat semakin banyak masyarakat yang memilih bekerja di perusahaan atau perkebunan dibanding bertani.
“Kami akan terus memodernisasi alat pertanian karena sektor ini mengalami keterbatasan tenaga kerja,” ujarnya.
Dengan berbagai inovasi tersebut, DTPHP Kutim optimistis produktivitas petani dapat terus meningkat meskipun jumlah buruh tani mengalami penurunan. Pemerintah daerah memastikan kebijakan modernisasi akan terus diperluas demi keberlanjutan sektor pertanian di Kutai Timur. (adv)


