Sangatta — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat komitmennya dalam menekan angka stunting melalui program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Salah satu yang menjadi andalan adalah Program Rp250 juta per RT, sebuah pendekatan berbasis lingkungan yang dinilai mampu memberikan solusi cepat dan tepat untuk persoalan gizi anak.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa dari 50 program unggulan pembangunan daerah, banyak di antaranya dirancang untuk mempercepat penanganan stunting. Program Rp250 juta per RT disebut sebagai salah satu instrumen paling strategis karena langsung berada di tangan masyarakat dan ketua RT sebagai pihak yang paling memahami kondisi warganya.
“Program ini diharapkan dapat memberikan kemudahan karena pemerintah telah memfasilitasi langsung ke lingkungan,” ujar Ardiansyah, Selasa (25/11/2025).
Melalui program ini, setiap RT memiliki keleluasaan untuk memanfaatkan dana sesuai kebutuhan riil di lapangan. Mulai dari mendukung ekonomi keluarga, memberikan pelatihan bagi warga, hingga pembangunan fisik skala kecil yang berdampak pada kesehatan dan akses layanan dasar.
Menurut Ardiansyah, berbagai kegiatan tersebut memberikan kontribusi langsung pada upaya penurunan stunting.
“Banyak kegiatan dalam program Rp250 juta yang mendukung penanganan stunting. Mulai dari mengurangi kemiskinan sampai meningkatkan ekonomi warga,” jelasnya.
Bupati menekankan bahwa ketua RT memiliki peran khusus sebagai garda terdepan yang memahami kondisi setiap keluarga. Mereka mengetahui siapa saja yang mengalami stunting, berisiko stunting, berada dalam kondisi miskin, hingga keluarga yang membutuhkan modal atau pelatihan.
“Ketua RT pasti tahu siapa warganya yang stunting, berisiko stunting, siapa yang miskin, dan siapa yang butuh modal atau pelatihan,” tegas Ardiansyah.
Kolaborasi ini diharapkan memastikan setiap rupiah dari program benar-benar memberi manfaat dan tepat sasaran.
Melihat efektivitas program yang berbasis langsung pada kebutuhan warga, Ardiansyah optimistis angka stunting di Kutim dapat turun signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Jika program ini berjalan baik dan memenuhi kebutuhan warga, saya yakin dalam 3–5 tahun ke depan stunting Kutim bisa menurun secara signifikan,” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang dekat, adaptif, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, Program Rp250 juta per RT diharapkan menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi Kutim yang lebih sehat dan tumbuh optimal. (adv)


