BERAU – Tersendatnya proses perizinan galian C di Kabupaten Berau mulai menimbulkan dampak sosial yang luas. Bukan hanya pelaku usaha, ratusan sopir dump truk dan pekerja sektor material kini terancam kehilangan mata pencaharian akibat aktivitas yang tak kunjung bisa berjalan.
Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, menilai persoalan izin galian C tidak bisa lagi dipandang sebatas urusan administratif. Menurutnya, ketidakpastian tersebut sudah langsung memukul ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor tersebut.
“Ini bukan hanya soal izin di atas kertas. Aktivitas galian C selama ini menjadi sumber penghidupan banyak warga, terutama sopir dump truk dan pekerja lapangan. Ketika izin tidak jelas, mereka otomatis kehilangan pendapatan,” ujar Subroto.
Dari informasi yang diterimanya, sekitar 200 komunitas sopir dump truk saat ini tidak dapat beroperasi. Kondisi itu dinilai sangat memberatkan, mengingat sebagian besar dari mereka menggantungkan penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kurang lebih ada sekitar 200 komunitas sopir dump truk yang terdampak. Ini bukan angka kecil, karena di balik itu ada keluarga yang ikut bergantung pada pekerjaan mereka,” katanya.
Ia pun meminta pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret agar polemik perizinan ini tidak berlarut-larut.
“Kalau kita bicara soal ekonomi rakyat dan kesempatan kerja, persoalan izin galian C ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama tanpa kepastian. Harus ada solusi nyata dari pemerintah daerah,” tutupnya. (adv)


